Hai, kamu.
Rasanya baru kemarin kamu mengunjungiku. Berdiri di depan gerbang kost ku dan
membuatku terkaget karenanya. Rasanya, baru kemarin juga kita berjalan bersama
sepanjang jalan Aceh menuju Gedung Sate dengan ditemani hujan gerimis yang
membuat suasana romantis kian bertambah. Rasanya baru kemarin juga kita makan bersama
di Puncak Ciumbuleuit, menikmati indahnya Bandung pada malam hari. Dan rasanya,
baru kemarin kamu meyuapi ku semangkuk bubur dikala aku sakit. Aku merindukan
itu semua.
Ah,
semua itu masih terekam sangat jelas di memori otak ku. Aku menyimpan semua
kejadian yang kita lalui secara detail tak ada yang terlupa sedikit pun. Kau
tau? Aku selalu merindukanmu. Menunggumu datang dan kembali mengunjungiku. Aku tau,
tak mudah bagimu untuk mendatangiku. Karena kita bermasalah pada jarak.
Jarak?
Aku sangat benci ketika aku mengingat jarak antara aku dan kamu. Karena jarak
kita sangat jauh. Kita berada di pulau yang berbeda, kita terpisah oleh laut
dan selat. Membayangkan nya saja aku sudah lelah. Aku benci kita terpisah
seperti ini. Aku benci terpisah dari orang yang aku sayang. Adakala dimana aku
sangat ingin seperti teman-teman ku yang bisa tertawa dengan kekasihnya setiap
saat, berjalan beriringan di taman kampus, atau sekedar menghabiskan akhir
minggu bersama. Bagaimana dengan kita? Lagi-lagi jarak. Jarak yang membuat aku
dan kamu terpaksa menumpuk rindu. Membuatnya menjadi mengunung. tapi, hal ini
tidak akan menjadi kendala hubungan kita kan sayang?. Aku mempercayaimu.
Wajar
rasanya jika aku sering berkata “kenapa ya kita harus jauh ini”. Karena
terkadang aku lelah. Lelah rasanya berjauhan denganmu. Aku lelah disiksa oleh
rindu yang kian hari kian bertumpuk. Aku ingin seperti mereka, menghabiskan
waktu bersama, bercerita tentang kejadian sehari-hari dengan cara yang nyata.
Bukan lewat penemuan orang-orang jenius yang biasa di sebut handphone. Aku
ingin kamu yang nyata. Aku merindumu. Tapi apa? Lagi-lagi kita tertahan oleh
satu hal. Jarak.
Belum
lagi kesibukan kita masing-masing, yang cukup menyita waktu kita. Tak jarang
aku mencarimu karna kamu tidak membalas sms ku. Tak jarang juga aku
mengkhawatirkanmu karena kamu tidak mengabariku seharian. Andai kamu dekat,
pasti mudah memantaumu. Mengetahui dimana kamu berada pun bukan mejadi hal
sulit pastinya. Tapi, lagi-lagi jarak lah alasan dibalik semua ini.
tapi,
berkat usaha-usahamu aku bisa merasakan kehadiranmu. Ucapan selamat pagi
melalui sms, perhatian-perhatian kecil, pujian-pujian manis, chatting lewan
facebook, bercengkrama melalui telepon
di malam hari hingga video call. Rasanya, ketika kita melakukan itu semua, kamu
seperti terasa dekat. Itu semua cukup untuk melepas sedikit rindu dari gunung
rinduku. Itu semua cukup untuk meyakinkanku bahwa kau ada untukku. Walau
nyatanya, kau tidak benar-benar ada disini.
Aku
yakin, suatu hari kita pasti akan bersama. Kita tidak aka nada istilah
berjauhan lagi nanti. Jarak ini memisahkan kita, namun tidak hati kita. Jarak
ini yang membuat kita semakin kuat. Jarak ini juga yang membuat kita semakin
mengerti arti hadirnya satu sama lain. Bersabarlah, setidaknya kita masih di
satu bumi dan satu langit. Ya setidaknya, kita masih bisa melihat bulan yang
sama. Aku mencintamu .
-@zuraidanorma
#proyekcinta
Source By: Norma Zuraida
Tidak ada komentar:
Posting Komentar