Selasa, 25 Juni 2013

Antara Aku, Kamu, dan Jarak

Sebenernya yang nulis ini bukan gue, gue cuma copas dari dia, tapi dia udah ijinin buat gue taro di sini.. oke gak banyak cingccong...


Hai, kamu. Rasanya baru kemarin kamu mengunjungiku. Berdiri di depan gerbang kost ku dan membuatku terkaget karenanya. Rasanya, baru kemarin juga kita berjalan bersama sepanjang jalan Aceh menuju Gedung Sate dengan ditemani hujan gerimis yang membuat suasana romantis kian bertambah. Rasanya baru kemarin juga kita makan bersama di Puncak Ciumbuleuit, menikmati indahnya Bandung pada malam hari. Dan rasanya, baru kemarin kamu meyuapi ku semangkuk bubur dikala aku sakit. Aku merindukan itu semua.
                Ah, semua itu masih terekam sangat jelas di memori otak ku. Aku menyimpan semua kejadian yang kita lalui secara detail tak ada yang terlupa sedikit pun. Kau tau? Aku selalu merindukanmu. Menunggumu datang dan kembali mengunjungiku. Aku tau, tak mudah bagimu untuk mendatangiku. Karena kita bermasalah pada jarak.
                Jarak? Aku sangat benci ketika aku mengingat jarak antara aku dan kamu. Karena jarak kita sangat jauh. Kita berada di pulau yang berbeda, kita terpisah oleh laut dan selat. Membayangkan nya saja aku sudah lelah. Aku benci kita terpisah seperti ini. Aku benci terpisah dari orang yang aku sayang. Adakala dimana aku sangat ingin seperti teman-teman ku yang bisa tertawa dengan kekasihnya setiap saat, berjalan beriringan di taman kampus, atau sekedar menghabiskan akhir minggu bersama. Bagaimana dengan kita? Lagi-lagi jarak. Jarak yang membuat aku dan kamu terpaksa menumpuk rindu. Membuatnya menjadi mengunung. tapi, hal ini tidak akan menjadi kendala hubungan kita kan sayang?. Aku mempercayaimu.
                Wajar rasanya jika aku sering berkata “kenapa ya kita harus jauh ini”. Karena terkadang aku lelah. Lelah rasanya berjauhan denganmu. Aku lelah disiksa oleh rindu yang kian hari kian bertumpuk. Aku ingin seperti mereka, menghabiskan waktu bersama, bercerita tentang kejadian sehari-hari dengan cara yang nyata. Bukan lewat penemuan orang-orang jenius yang biasa di sebut handphone. Aku ingin kamu yang nyata. Aku merindumu. Tapi apa? Lagi-lagi kita tertahan oleh satu hal. Jarak.
                Belum lagi kesibukan kita masing-masing, yang cukup menyita waktu kita. Tak jarang aku mencarimu karna kamu tidak membalas sms ku. Tak jarang juga aku mengkhawatirkanmu karena kamu tidak mengabariku seharian. Andai kamu dekat, pasti mudah memantaumu. Mengetahui dimana kamu berada pun bukan mejadi hal sulit pastinya. Tapi, lagi-lagi jarak lah alasan dibalik semua ini.
                tapi, berkat usaha-usahamu aku bisa merasakan kehadiranmu. Ucapan selamat pagi melalui sms, perhatian-perhatian kecil, pujian-pujian manis, chatting lewan facebook, bercengkrama melalui  telepon di malam hari hingga video call. Rasanya, ketika kita melakukan itu semua, kamu seperti terasa dekat. Itu semua cukup untuk melepas sedikit rindu dari gunung rinduku. Itu semua cukup untuk meyakinkanku bahwa kau ada untukku. Walau nyatanya, kau tidak benar-benar ada disini.
                Aku yakin, suatu hari kita pasti akan bersama. Kita tidak aka nada istilah berjauhan lagi nanti. Jarak ini memisahkan kita, namun tidak hati kita. Jarak ini yang membuat kita semakin kuat. Jarak ini juga yang membuat kita semakin mengerti arti hadirnya satu sama lain. Bersabarlah, setidaknya kita masih di satu bumi dan satu langit. Ya setidaknya, kita masih bisa melihat bulan yang sama. Aku mencintamu .


-@zuraidanorma #proyekcinta
  Source By: Norma Zuraida

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar